Kita semua tahu Jakarta adalah pusat aktifitas ekonomi di Indonesia yang juga punya konsekuensi pertumbuhan cepat dan perkembangan modernisasi yang masif, jika pemerintah di sana tidak cakap maka tentu saja kota metropolitan ini bisa jadi kota yang tidak nyaman lagi untuk ditinggali.

Polusi udara di Jakarta yang mungkin bisa menular ke kota lainnya

Banyaknya jenis transportasi yang dimiliki individu berdampak besar terhadap munculnya kemacetan yang praktis menambah efek polusi udara di ibukota ini, berikut akan kami paparkan fakta yang bisa ditemukan di media online:

  1. PM10 (Particulate Matter), NO2 (Nitrogen Oksida), O3 (Ozon) adalah gas-gas beracun yang paling banyak dihasilkan oleh kendaraan bermotor. Gas tersebut menjadi penyebab utama pencemaran udara dan gangguan saluran pernapasan serta kerusakan paru-paru.
  2. Ada 686.864 ton polutan udara yang dihasilkan Jakarta per tahun. Hanya 81 hari dalam 1 tahun udara di Jakarta dikatakan bebas polusi.
  3. Biaya kesehatan yang dikeluarkan oleh warga Jakarta untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh pencemaran udara adalah sebesar Rp38,5 triliun.
  4. Akibat pencemaran udara, 57,8 % warga Jakarta menderita penyakit-penyakit sebagai berikut:
    • 210.581 orang menderita asthmatic bronchial, yaitu penyakit peradangan paru-paru dengan gejala sesak napas, batuk kering, rasa sesak pada dada.
    • 153.724 orang menderita bronchopneumonia, yaitu penyakit pada parenkim paru yang menyebar membentuk bercak.
    • 2.449.986 orang menderita ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Penyakit ini sering terjadi pada anak karena sistem kekebalan tubuh mereka masih rendah.
    • 336.273 orang menderita pneumonia atau radang paru-paru. Penyakit ini membuat paru-paru terisi oleh cairan. Gejalanya berupa batuk, sakit dada, demam, dan kesulitan bernapas.
    • 153.724 orang menderita COPD (Chronic Obstructive Pulmonary Disease), atau penyakit paru obstruktif kronik. Penyakit ini menyebabkan hambatan aliran udara napas tidak sepenuhnya berputar dua arah.
    • 1.246.130 orang menderita coronary artery diseases atau penyakit arteri koroner. Penyakit ini menyebabkan penebalan dinding dalam pemburuh darah jantung, akibatnya jantung kekurangan darah dan dapat menyebabkan kematian.
  5. Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) mengatakan penyebab dari pencemaran udara di Jakarta adalah pertambahan jumlah kendaraan bermotor di Jakarta yang sangat melebihi batas.
  6. Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta mengakui kendaraan bermotor penyumbang polusi udara terbesar di Jakarta
  7. Dari hasil saat pantau udara yang diletakkan di beberapa titik, terlihat kualitas udara di Jakarta secara umum masih berada dibawah ambang batas. Hal tersebut akibat dari kemacetan lalu lintas yang tidak pernah hilang di Jakarta.
  8. Menurut data Ditlantas Polda Metro Jaya, jumlah kendaraan bermotor di Jakarta hingga pada 2011 mencapai 13.347.802 unit. Jumlah tersebut terdiri dari mobil penumpang sebanyak 2,54 juta unit, mobil muatan atau truk sebanyak 581 ribu unit, bus 363 ribu unit, dan sepeda motor sebanyak 9.861.451 unit. Ditlantas melaporkan prediksi pertumbuhan kendaraan pada 2012 sekitar 10-12 persen.
  9. Akibat tingginya polusi udara di DKI Jakarta, kadar emas di lidah api puncak Tugu Monumen Nasional disebut mulai memudar. Keadaan tersebut diperparah jarangnya pembersihan atas puncak tugu tersebut. Turunnya kadar emas di puncak Monas disebabkan kandungan karbon monoksida dari polusi udara asap knalpot kendaraan di ibu kota. Kandungan tersebut, menyebabkan korosi di seluruh bagian permukaan besi yang ditutupi lapisan emas hingga membuatnya pudar. Sampai saat ini belum ada penelitian untuk menghitung penurunan kadar emas di puncak Monas. Namun, penurunan kadar emas tersebut bisa dilihat secara kasat mata dari adanya perubahan warna.
  10. Jika udara cerah, pengunjung di Monas dapat melihat Gunung Salak di Jawa Barat maupun Laut Jawa dengan Kepulauan Seribu.

Sumber: