Sekarang kami akan copy-pastekan status Facebook dari Aan Chadra Thalib mengenai pentingnya berlomba-lomba dalam hal kebaikan karena akan memberi dampak besar bagi diri kita sendiri maupun orang lain.

ikhlas

Semasa hidupnya Umar radhiallahu anhu selalu berharap agar dapat menyaingi Abu Bakar. Hingga suatu hari menjelang perang Tabuk Rasulullah menyampaikan khutbah dan memotivasi sahabat-sahabatnya untuk berinfaq. Mendengar hal itu Umar berkata dalam hatinya, “Hari ini aku pasti dapat mengalahkan Abu Bakar. Umar pun membagi hartanya yang terdiri dari emas dan perak menjadi dua bagian, separoh untuk keluarganya dan separoh lagi untuk Allah. Melihat hal tersebut Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bertanya, “Apa yang kau sisahkan untuk keluargamu.?
“Aku tinggalkan sebanyak ini juga”, jawab Umar. Umar duduk sejenak menunggu kedatangan Abu Bakar.

Tiba-tiba datanglah Abu bakar dengan harta yang sangat melimpah lalu meletakkannya di hadapan Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-.
Melihat hal itu Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bertanya: “Apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu..?
Abu Bakar menjawab, “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya”. Umar lalu menatap Abu Bakar dan berkata: “Demi Allah.. Aku tidak akan bersaing dengan Abu Bakar lagi setelah hari ini”. ( HR. Tirmidzi )

Ibroh:

Di dalam Al-Qur’an Allah azza wa jalla berfirman yang artinya:

Dan bergegaslah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.”(QS: Ali’ Imran : 133).

Imam Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan:

“Ketika suatu kaum mendengar seruan,”Maka berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan”, juga seruan,”Dan bergegaslah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi disiapkan untuk orang-orang yang bertaqwa”, mereka memahami bahwa maksud dari ayat ini adalah, “hendaknya mereka bersungguh-sungguh agar setiap dari mereka menjadi pemenang menuju kemuliaan itu. Maka dahulu, perlombaan mereka pada tingkatan-tingkatan akhirat. Kemudian datanglah sesudah mereka kaum yang berlomba-lomba dalam hal-hal duniawi dengan segala bagiannya yang begitu cepat sirna”.(Lathaaiful maarif).

Dalam surat al Muthaffifiin, tatkala Allah menggambarkan kenikmatan penghuni surga, diakhir ayat ke 26 Dia menegaskan kepada kita agar melakukan perlombaan itu, sebagaimana tertulis:

”Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga bersabda:

”Begegaslah kalian dalam melakukan amal shaleh, sebelum terjadi berbagai fitnah (yang datang) bagaikan potongan-potongan malam gulita” (HR. Muslim, Ahmad, dan At Tirmidzi).

Ayat-ayat dan hadits di atas setidaknya menegaskan kepada kita, bahwa beradu cepat dalam kebaikan, adalah nafas dan naluri kehidupan seorang mukmin.

Kisah diatas juga mengajari kita tentang arti kongkrit kekokohan iman. Seringkali kita menganggap bahwa kitalah yg mengatur hidup ini. Kita sering lupa bahwa Allah sajalah satu-satunya Pengatur alam semesta dan seisinya. Kehendak-Nya yang berlaku. Dan Abu Bakar mengajari kita tentang itu.

Lalu timbul pertanyaan, “Bolehkan kita menginfakkan seluruh harta yang kita miliki di jalan Allah tanpa menyisahkannya sedikitpun untuk keluarga..?

Jawabannya: “Boleh, jika iman kita sama seperti iman Abu Bakar”

_________________
Madinah 14/03/1436 H
ACT El Gharantaly