Dengan ramainya fenomena “ISIS” belakangan ini, nampaknya “ga ada greget” kalo tak turut serta ikut nimbrung permasalahan ini, rasanya penulis perlu menyiarkan apa yang perlu disiarkan supaya masyarakat bisa mengetahui seperti apa sebenarnya pasukan yang katanya berusaha menegakkan konsep “Khilafah” diatas segala-galanya ini. ISIS/ISIL/IS atau apapunlah namanya yang jelas ini adalah sekumpulan manusia yang berusaha menegakkan daulah Islam dibawah satu pimpinan beserta hukum Islamnya, namun apakah kenyataannya seperti itu? apakah mereka mampu mewujudkannya?

Pasukan ISIS dan fatwa ulama

Beberapa paragraf yang saya comot dari berbagai sumber mungkin bisa membantu anda meriset seperti apa pasukan yang katanya “dijanjikan” ini, selamat membaca.

—————————————-

Dari KonsultasiSyariah.com

Hadis tentang ISIS

Saya pernah mendengar hadis yang katanya mendukung keberadaan isis. Dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyinggung bahwa di masa depan akan ada kekhalifahan dengan bendera hitam di daerah khurasan. Dan seperti yang kita tahu, khilafah ISIS benderanya hitam.

Apa ini benar, dan bgmn pandangan yg benar?. Terima kasih. 

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Ada beberapa riwayat yang menyebutkan hal itu, diantaranya,

Pertama, hadis dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إذا رأيتم الرايات السود قد جاءت من قبل خراسان فائتوها فان فيها خليفة الله المهدي

Apabila kalian melihat bendera-bendera hitam telah datang dari arah Khurasan, maka datangilah dia, karena di sana ada khalifah Allah al-Mahdi.

Derajat hadis

Hadis ini diriwayatkan dari dua

  • Diriwayatkan Ibnu Majah dari Khalid al-Hadza’ dari Abu Qilabah, dari Abu Asma dari Tsauban secara marfu’.
  • Diriwayatkan Imam Ahmad dari Ali bin Zaid bin Jadza’an dari Abu Qilabah dari Tsauban secara marfu’.

Para ulama menilai sanad hadis ini lemah. Diantara alasannya,

– Dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Ali bin Zaid bin Jadza’an, yang dinilai dhaif oleh Imam Ahmad dan yang lainnya. Al-Munawi dalam Faidhul Qodir mengatakan,

وفيه علي بن زيد بن جذعان نقل في الميزان عن أحمد وغيره تضعيفه ثم قال الذهبي أراه حديثا منكرا

Dalam sanadnya terdapat perawi Ali bin Zaid bin Jadza’an. Disebutkan dalam al-Mizan dari Ahmad dan yang lainnya yang mendhaifkan orang ini. Kemudian ad-Dzahabi mengatakan, ’Menurutku ini hadis munkar.’ (Faidhul Qodir, 1/363)

– Perawi Abu Qilabah adalah seorang mudallis dan melakukan ’an’anah (menggunakan kata ’an, artinya dari).

(as-Silsilah ad-Dhaifah, keterangan hadis no. 85).

Oleh karena itu, para ulama hadis kontemporer, diantaranya Syuaib al-Arnauth dan Imam al-Albani, mendhaifkan hadis ini.

Kedua, keterangan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, (hadis mauquf).

Dari Walid dan Risydin dari Ibnu Lahaiah dari Abi Qobil, dari Abu Rumman dari Ali bin Abi Thalib, beliau mengatakan,

إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّايَاتِ السُّودَ فَالْزَمُوا الأَرْضَ فَلا تُحَرِّكُوا أَيْدِيَكُمْ ، وَلا أَرْجُلَكُمْ ، ثُمَّ يَظْهَرُ قَوْمٌ ضُعَفَاءُ لا يُؤْبَهُ لَهُمْ ، قُلُوبُهُمْ كَزُبَرِ الْحَدِيدِ ، هُمْ أَصْحَابُ الدَّوْلَةِ ، لا يَفُونَ بِعَهْدٍ وَلا مِيثَاقٍ ، يَدْعُونَ إِلَى الْحَقِّ وَلَيْسُوا مِنْ أَهْلِهِ ، أَسْمَاؤُهُمُ الْكُنَى ، وَنِسْبَتُهُمُ الْقُرَى ، وَشُعُورُهُمْ مُرْخَاةٌ كَشُعُورِ النِّسَاءِ ، حَتَّى يَخْتَلِفُوا فِيمَا بَيْنَهُمْ ، ثُمَّ يُؤْتِي اللَّهُ الْحَقَّ مَنْ يَشَاءُ

Apabila kalian telah melihat bendera-bendera hitam, tetaplah di tempat kalian dan jangan gerakkan tangan dan kaki kalian. Kemudian akan berkuasa sekelompok orang yang lemah akalnya, tidak teranggap, hati mereka seperti potongan besi. Mereka penduduk daulah (menguasai banyak daerah), tidak memenuhi janji. Mereka mengajak menuju kebenaran, padahal mereka bukan pemilik kebenaran. Nama mereka berawalan kun-yah (identitas tidak jelas) dan nisbah mereka kepada desa. Rambut mereka terjuntai seperti rambut wanita. Hingga terjadi sengketa diantara mereka, kemudian Allah mendatangkan kebenaran melalui orang yang Dia kehendaki.

Derajat Hadis:

Hadis ini dinilai lemah oleh para ulama, karena beberapa catatan,

  1. ‘An’anah dari al-Walid
  2. Risydin bin Sa’d perawi yang dhaif
  3. Ibnu Lahaiah perawi yang lemah
  4. Abu Ruman perawi yang Majhul (tidak dikenal). Disebutkan oleh Ibnu Mandah dalam Fathul Bab, tanpa penilaian.

(as-Silsilah ad-Dhaifah, 1/440)

Terlepas dari status keabsahan riwayat di atas, jika kita perhatikan, keterangan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu justru menyudutkan posisi para pemegang bendera hitam itu. Karena sangat jelas, keterangan ini mencela keberadaan mereka.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

——————–

Dari Yufid.tv

ISIS, belakangan ini sering muncul di media pemberitaan tentang ISIS (Islamic State of Irak and Syam). Mereka mendeklarasikan diri sebagai Khilafah Islam yang sah. Lalu siapakah ISIS (Daulah Islam Irak dan Syam)? Apakah mereka benar-benar Khilafah yang sah? Bagaimana seharusnya sikap kaum muslimin Indonesia dan dunia terhadap ISIS?

——————————————————————————–

Dari Muslim.or.id, Nasehat Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad

Di awal bulan Ramadhan tahun ini (1435 H) mereka mengubah nama mereka menjadi الخلافة الإسلامية (Al-Khilafah Al-Islamiyah). Khalifahnya yang disebut dengan Abu Bakar Al Baghdadi berkhutbah di sebuah masjid jami’ di Mosul. Diantara yang ia katakan dalam khutbahnya: “Aku dijadikan pemimpin bagi kalian padahal aku bukan orang yang terbaik di antara kalian”. Sungguh ia telah berkata benar, bahwa ia bukanlah orang yang terbaik di antara mereka, karena ia telah membunuhi orang seenaknya dengan golok-golok. Apabila pembunuhan tersebut atas perintahnya, atau ia mengetahuinya atau ia menyetujuinya, maka justru ia adalah orang yang terburuk di antara mereka. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه، لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا، ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه، لا ينقص ذلك من آثامهم شيئا

barangsiapa mengajak kepada jalan petunjuk, maka ia mendapatkan pahala semisal pahala orang yang mengikutinya. tanpa mengurangi pahala orang yang mengkutinya itu sedikitpun. Dan barangsiapa mengajak keada kesesatan, maka ia mendapatkan dosa semisal dosa orang yang mengikutinya. tanpa mengurangi dosa orang yang mengkutinya itu sedikitpun” (HR. Muslim, 6804)

Kalimat yang ia katakan tersebut dalam khutbahnya, sebenarnya adalah kalimat yang telah dikatakan oleh khalifah pertama umat Islam setelah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu’anhu wa ardhaah. Namun beliau adalah orang yang terbaik dari umat ini, dan umat ini adalah umat yang terbaik dari umat-umat yang ada. Beliau berkata demikian dalam rangka tawadhu’ (rendah hati) padahal beliau sendiri tahu dan para sahabat juga tahu bahwa beliau adalah orang yang terbaik di antara mereka berdasarkan dalil-dalil berupa ucapan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengenai hal tersebut. Maka sebaiknya firqah ini (ISIS) sadar diri dan kembali kepada jalan petunjuk sebelum daulah mereka hilang dihembus angin sebagaimana daulah-daulah yang telah ada semisalnya di berbagai zaman.

Dan suatu hal yang disayangkan, fitnah (musibah) khilafah khayalan yang lahir beberapa waktu yang lalu ini, diterima dan disambut oleh sebagian pemuda di negeri Al-Haramain. Mereka bahagia dan senang terhadap khilafah khayalan ini sebagaimana senangnya orang yang haus ketika mendapatkan minuman. Dan diantara mereka juga ada yang mengaku telah berbai’at kepada khalifah majhul tersebut! Bagaimana mungkin bisa diharapkan kebaikan dari orang-orang yang memiliki pemahaman takfir (serampangan memvonis kafir) dan taqtil (serampangan membunuh orang) dengan cara membunuh yang paling kejam dan sadis?

Dan kepada para pemuda yang sudah ikut-ikutan mendukung ISIS ini, hendaklah mereka ruju‘ dan kembali kepada jalan yang benar. Dan jangan terfikir sama sekali untuk bergabung bersama mereka, yang akan menyebabkan kalian keluar dari kehidupan ini lewat bom bunuh diri yang mereka pakaikan atau disembelih dengan golok-golok yang sudah jadi ciri khas kelompok ini. Dan (kepada para pemuda Saudi) hendaknya mereka tetap mendengar dan taat kepada pemerintah Arab Saudi yang mereka hidup di bawah kekuasaannya. Demikian pula bapak-bapak dan kakek-kakek juga mereka hidup di negeri ini dalam keadaan aman dan damai. Sungguh negeri ini adalah negeri yang terbaik di dunia ini, dengan segala kekurangannya. Dan diantara sebab kekurangan tersebut fitnah (musibah) para pengikut budaya Barat di negeri ini yang terengah-engah dalam taqlid terhadap negeri Barat dalam perkara yang mengandung mudharat.

Aku (Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad) memohon kepada Allah ‘Azza Wa Jalla agar Ia senantiasa memperbaiki kondisi kaum muslimin di manapun berada. Dan semoga Allah memberi hidayah kepada para pemuda kaum Muslimin baik laki-laki maupun wanita kepada setiap kebaikan, semoga Allah menjaga negeri Al Haramain baik pemerintah maupun masyarakatnya dari setiap kejelekan, semoga Allah memberi taufiq kepada setiap kebaikan dan melindungi dari kejahatan orang-orang jahat dan tipu daya orang-orang fajir. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.