Sejak negara Israel semakin angkuh memperluas wilayahnya dengan menduduki dan mengusir saudara-saudara muslim kita di Palestina sejak saat itu pulalah semakin sering sebagian umat muslim meneriakkan boikot kepada produk Yahudi karena dianggap jika kita membeli produknya maka dana hasil penjualan akan semakin membuat negara Zionis Yahudi bertambah kuat, atau bisa dikatakan kita kaum muslimin malah membantu Zionis mendzolimi saudara kita di Palestina, lalu bagaimanakah sikap kita sebagai muslim tentang anjuran boikot ini?

Boikot Produk Yahudi

Berikut akan saya copy-pastekan artikel dari Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal dari website Rumaysho.com

Sebagai orang yang ingin selalu mencari kebenaran, ketika tersesat atau bingung mau berjalan ke mana, tentu akan bertanya pada orang yang lebih mengetahui jalan tersebut. Dalam masalah diin (agama), tentu saja ketika bingung, ulama-lah yang jadi tempat bertanya.

Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An Nahl: 43 dan Al Anbiya’: 7)

[Fatwa Pertama]

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah pernah ditanyakan,

“Wahai Syaikh yang mulia, ada sebuah minuman yang dinamakan Coca-Cola yaitu minuman produk perusahaan Yahudi. Apa hukum meminum minuman ini dan apa hukum menjualnya? Apakah kalau menjualnya termasuk bentuk tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan?”

Syaikh rahimahullah menjawab,

“Apakah tidak sampai padamu hadits yang menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membeli makanan dari seorang Yahudi untuk keluarganya, lalu tatkala beliau meninggal dunia, baju besinya masih tergadai pada orang Yahudi tersebut?

Apakah juga tidak sampai padamu hadits yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menerima hadiah dari seorang Yahudi.

Jika kita mengatakan: Jangan menggunakan produk Yahudi atau jangan memakan produk Yahudi, maka akan luput nantinya berbagai hal yang dinilai manfaat semacam mobil-mobil yang kebanyakan dikerjakan oleh orang Yahudi atau akan hilang di tengah-tengah hal-hal yang bermanfaat lainnya yang hanya diproduksi oleh orang-orang Yahudi.

Memang benar bahwa minuman semacam ini kadang ada unsur bahaya dari orang Yahudi karena sudah diketahui bahwa orang Yahudi bukanlah orang yang amanat. Contohnya adalah mereka pernah meletakkan racun pada daging kambing yang dihadiahkan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala kematian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengatakan, “Aku terus merasakan rasa sakit disebabkan makanan yang dulu pernah kumakan di Khoibar. Karena racun inilah terputuslah urat nadiku (kematianku)”. Oleh karena itu, Az Zuhri rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat karena dibunuh oleh orang-orang Yahudi. Semoga Allah melaknati mereka. Semoga Allah juga melaknati orang-orang Nashrani.” Jadi, mereka semua tidak dapat dipercaya, baik orang Yahudi maupun Nashrani. Akan tetapi, aku menduga bahwa barang yang sampai kepada kita ini pasti sudah dicek dan sudah diuji keamanannya, juga sudah diketahui bermanfaat ataukah tidak.” (Kaset Liqo’ Al Bab Al Maftuh no.64)

[Fatwa Kedua]

Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhohullah pernah ditanyakan,

“Wahai Syaikh yang mulia, terpampang di koran-koran saat ini seruan untuk pemboikotan produk Amerika. Di antaranya apa yang tertulis hari ini bahwa para ulama kaum muslimin menyeru pemboikotan dan aksi ini dikatakan fardhu ‘ain, setiap muslim wajib melakukan pemboikotan ini. Ada yang mengatakan bahwa membeli satu saja dari barang-barang ini adalah haram dan pelakunya telah berbuat dosa besar, telah menolong Amerika dan membantu Yahudi memerangi kaum muslimin. Saya mengharap Syaikh yang mulia bisa menjelaskan hal ini.”

Syaikh hafizhohullah menjawab,

“Yang pertama: Saya meminta salinan surat kabar atau perkataan yang disebutkan oleh penanya tadi. Yang kedua: fatwa semacam tadi tidaklah benar. Para ulama tidak berfatwa bahwa produk Amerika itu haram. Produk-produk Amerika tetap ada dan masih dipasarkan di tengah-tengah kaum muslimin. Jika engkau tidak membeli produk Amerika, itu pun tidak membahayakan mereka. Memboikot produk tertentu hanya boleh dilakukan jika ada keputusan dari penguasa kaum muslimin. Jika penguasa kaum muslimin memerintahkan untuk memboikot suatu produk, maka kaum muslimin wajib untuk memboikot. Adapun jika itu hanya seruan dari person-person tertentu dan mengeluarkan suatu fatwa, maka ini berarti telah mengharamkan apa yang Allah halalkan.” (Dari kaset Fatwa Ulama dalam Masalah Jihad dan Aksi Bunuh Diri dari Tasjilat Minhajus Sunnah Riyadh. Dinukil dari Majalah Al Furqon, IV/12)

Untuk melengkapi dua fatwa di atas, kami tambahkan lagi dengan fatwa Al Lajnah Ad Da’imah (Komisi Fatwa di Kerajaan Saudi Arabia)

[Fatwa Ketiga – Fatwa Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts wal Ifta’]

Soal Ketiga dari Fatawa no. 3323

Pertanyaan:

Apa hukum kaum muslimin tidak saling tolong menolong yaitu mereka tidak saling ridho dan tidak punya keinginan untuk membeli produk dari saudara mereka sesama muslim? Namun yang ada malah dorongan untuk membeli dari toko-toko orang kafir, apakah seperti ini halal atau haram?

Jawab:

Perlu diketahui, dibolehkan bagi seorang muslim untuk membeli kebutuhannya yang Allah halalkan baik dari penjual muslim maupun kafir. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah melakukan jual beli dengan seorang Yahudi. Namun jika seorang muslim berpindah ke penjual kafir tanpa ada sebab. Di antara sebabnya misalnya penjual muslim tersebut melakukan penipuan, menetapkan harga yang terlalu tinggi atau barang yang dijual rusak/cacat. Jika itu terjadi dan akhirnya dia lebih mengutamakan orang kafir daripada muslim, maka ini hukumnya haram. Perbuatan semacam ini termasuk loyal (wala’), ridho dan menaruh hati pada orang kafir. Akibatnya adalah hal ini bisa membuat melemahnya dan lesunya perekonomian kaum muslimin. Jika semacam ini jadi kebiasaan, akibatnya adalah berkurangnya permintaan barang pada kaum muslimin.

Adapun jika di sana ada faktor pendorong semacam yang telah disebutkan tadi (yaitu penjual muslim yang sering melakukan penipuan, harga barang yang terlalu tinggi atau barang yang dijual sering ditemukan cacat), maka wajib bagi seorang muslim menasehati sikap saudaranya yang melakukan semacam itu yaitu memerintahkan agar saudaranya tersebut meninggalkan hal-hal jelek tadi. Jika saudaranya menerima nasehat, alhamdulillah. Namun jika tidak dan dia malah berpaling untuk membeli barang pada orang lain bahkan pada orang kafir, maka pada saat itu dibolehkan mengambil manfaat dengan bermua’amalah dengan mereka.

Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa aalihi wa shohbihi wa sallam.

Al Lajnah Ad Daa-imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Iftaa’

Anggota: ‘Abdullah bin Qu’ud, ‘Abdullah bin Ghodyan

Wakil Ketua: ‘Abdur Rozaq ‘Afifi

Ketua: ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baaz

Kesimpulan

Seorang muslim dilarang untuk loyal (wala’) pada orang kafir, di antara bentuknya adalah menyerupai mereka (tasyabbuh) dalam hal yang menjadi ciri khas mereka. Namun apakah boleh menggunakan produk orang kafir? Jawabannya adalah boleh-boleh saja. Akan tetapi, masalah selanjutnya adalah bolehkah membeli produk orang kafir sedangkan masih ada produk kaum muslimin?Jawabannya adalah dalam dua rincian berikut:

  • [Pertama] Jika seorang muslim berpindah ke penjual kafir tanpa ada sebab. Di antara sebabnya misalnya penjual muslim tersebut melakukan penipuan, menetapkan harga yang terlalu tinggi atau barang yang dijual rusak/cacat. Jika itu terjadi dan akhirnya dia lebih mengutamakan orang kafir daripada muslim, maka ini hukumnya haram.
  • [Kedua] Adapun jika di sana ada faktor pendorong semacam penjual muslim yang sering melakukan penipuan, harga barang yang terlalu tinggi atau barang yang dijual sering ditemukan cacat, maka wajib bagi seorang muslim menasehati sikap saudaranya yang melakukan semacam itu yaitu memerintahkan agar saudaranya tersebut meninggalkan hal-hal jelek tadi. Jika saudaranya menerima nasehat, alhamdulillah. Namun jika tidak dan dia malah berpaling untuk membeli barang pada orang lain bahkan pada orang kafir, maka pada saat itu dibolehkan mengambil manfaat dengan bermua’amalah dengan mereka.

Adapun tentang masalah lainnya, yaitu masalah memboikot produk tersebut, maka perlu ada rincian dalam masalah ini. Kita tidak katakan dibolehkan boikot secara mutlak atau dilarang secara mutlak, namun mesti ada rincian, itulah jalan terbaik. Rinciannya:

  1. Perusahaan yang menghasilkan produk tersebut apakah perusahaan usaha milik negara yang pekerjanya adalah saudara-saudara kita kaum muslimin di negeri kita, maka jika boikot dilakukan, tentu saja dapat merugikan mereka. Sehingga tidak disarankan boikot dalam kondisi semacam ini selama produk yang dihasilkan halal.
  2. Perusahaan yang menghasilkan produk sepenuhnya dimiliki oleh perusahaan asing misalnya oleh orang Yahudi di mana hasil usaha dari perusahaan tersebut digunakan untuk menindas -misalnya- saudara-saudara kita di Palestina dan negeri muslimin lainnya, maka tidaklah disarankan untuk membeli produk-produk semacam itu. Hal ini dilihat dari sisi bahaya yang diberikan ketika produk tersebut dibeli yaitu dapat menindas saudara kita kaum muslimin lainnya karena biaya penindasan diambil dari keuntungan produk tersebut. Kita tidak menganggap bahwa produk tersebut haram dikonsumsi. Produknya asalnya halal, namun karena membelinya membawa dhoror (bahaya) yaitu Yahudi malah akan menindas saudara-saudara kita kaum muslimin, sebab itulah yang membuat kita memboikot produk semacam itu. Jadi mesti dibedakan antara strategi ini dan dari sisi halal-haramnya produk. Karena tidak boleh kita sengaja mengharamkan yang telah Allah halalkan.

Ada dua rincian penting lainnya mengenai penggunaan produk non-muslim:

  1. Jika kaum muslimin bisa saja lepas dari menggunakan produk tersebut, maka lebih utama tidak membeli produk-produk semacam itu.
  2. Jika kaum muslimin tidak bisa lepas, terpaksa menggunakan produk tersebut dan tidak ada pengganti lainnya, maka tidak mengapa menggunakan produk tersebut karena jika mesti diboikot malah menimbulkan dhoror (bahaya).

Inilah penjelasan menarik mengenai boikot produk Yahudi. Mudah-mudahan dengan memahami hal ini kita semakin memahami bagaimanakah cara memboikot produk yang benar. Yang terbaik adalah dengan tetap mengikuti ajakan pemerintah untuk memboikot karena masalah ini adalah masalah jama’ah, bukan individu. Demikian yang penulis dengar dari beberapa fatwa seperti dari Syaikhuna Dr. Sholih Al Fauzan.

Namun sekali lagi, boikot itu adalah pilihan. Yang mau memboikot, yah monggo silakan. Yang enggan, juga dipersilakan. Tetapi jangan sampai mudah menyalahkan orang yang tetap masih mau menggunakan produk Yahudi karena hukum asal produk mereka adalah halal sampai ada dalil yang membuktikan haramnya.

Bagi yang mau memboikot, perhatikanlah aturan di atas, jangan asal-asalan untuk boikot. Jangan karena boikot Anda, malah merugikan saudara muslim lainnya. Karena patut diingat bahwa di pabrik coca-cola pun yang bekerja adalah saudara-saudara kita sendiri. Dan jangan juga sampai ajakan boikot Anda malah menyusahkan orang lain karena kalau Anda tidak tawarkan pengganti lantas mau menggunakan apa?! Pikirkan, jangan asal berkoar …

Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.

Semoga Allah memberikan kita ilmu yang bermanfaat, amalan yang sholeh dan rizki yang thoyib.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

McDonalds