Pemilu 2014 sudah diambang mata, di luar sana banyak kalangan yang menyambut acara yang katanya demokrasi ini dengan gegap gempita namun sebagian juga ada yang mendapatinya biasa saja bahkan terkadang tidak peduli. Sebagai umat islam rasanya perlu bagi yang tahu informasi apa dampak pemilu bagi keberlangsungan dan manfaatnya dalam kehidupan kelak untuk berbagi dengan yang lainnya. Saya ambil informasi dibawah ini dari berbagai sumber dan semoga bisa membuka mata dan hati umat islam yang lain dalam menyikapi pemilu nanti.

Hukum islam dalam pemilu

Melek Terhadap Sejarah Islam

Oleh : Ustadz Dr Muhammad Arifin Badri

Sobat! Kisah sejarah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabanya sering kita dengar dan kitaelajari. Namun demikian hingga saat ini kita belum mampu memetik seluruh pelajaran penting darinya.

Diantara kisah perjalanan dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersama sahabatnya yang pasti telah anda pelajari, ialah kisah hijrah sebagian sahabat ke negri Habasyah.

Saya yakin, anda sepenuhnya memahami bahwa negri habasyah adalah negri kafir, namun demikian, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengizinkan sebagian sahabatnya untuk berhijrah ke sana. Ada satu alasan penting yang melatar belakangi keputusan beliau ini, yaitu adanya kepastian hukum dan perlindungan bagi setiap orang tinggal di negri tersebut.

Rasulullah shallallahi alaihi wa sallam bersabda: “لو خرجتم إلى أرض الحبشة، فإن بها ملكا لا يظلم عنده أحد، وهي أرض صدق، حتى يجعل الله لكم فرجا مما أنتم فيه” Ada baik ya jikalau kalian pergi ke negri Habasyah, karena di negri itu dipimpin oleh seorang raja yang menegakkan keadilan, sehingga tidak seorangpun dianiaya di sana. Negri itu adalah negri yang dipimpin dengan kejujuran. Kalian untuk sementara tinggal di sana hingga saatnya nanti Allah memberikan jalan keluar bagi kalian dari kondisi yang menghimpit kalian. ( Ahmad dan lainnya)

Walau negri itu negri kafir, dan Islam melarang ummatnya untuk tinggal apalagi hijrah ke negri kafir, namun demikian pada saat itu negri Habasyah adalah pilihan pahit teringan bagi banyak sahabat dibanding bertahan hidup di negri Makkah.

Bertahan hidup di negri Makkah artinya menanggung derita, siksa dan intimidasi yang sangat berat untuk dipikul oleh kebanyakan sahabat. Sedangkan berhijrah ke negri Habasyah juga pilihan pahit, karena hidup di negri orang kafir, berpotensi mengancam keutuhan agama para sahabat. Dan telah terbukti salah seorang dari kaum muslimin yaitu ubaidillah bin Jahesy tidak kuasa menahan godaan hingga akhirnya ia murtad dan masuk ke agama nasrani.

Petaka yang menimpa Ubaidillah bin jahesy ini membuktikan bahwa keberadaan para sahabat di Habasyah adalah satu pilihan pahit namun tidak sepahit bila mereka bertahan di kota Makkah.

Kisah di atas menjadi pelajaran kita untuk menghadapi kondisi serupa. Misalnya di saat pemilu ini. Menggunakan hak pilih adalah pilihan pahit namun tidak sepahit bila tokoh tokoh syi’ah dan antek antek kaum kafir memenangkan pemilu dan memimpin negri ini.

Sobat! Berpikir cerdas dan bersikap kesatria adalah bagian dari karakter ummat Islam. Mengedepankan dalil dan nalar sehat adalah sikap bijak dibanding sekedar mengikuti hawa nafsu dan emosi diri.

Fatwa Ulama : Memberikan Suara dalam Pemilu

Oleh : Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani –rahimahullah-, pakar hadits abad ini

Fatwa beliau ini adalah lanjutan dari jawaban beliau terhadap pertanyaan dari partai FIS Al Jazair.

Pertanyaan kedua: Bagaimana menurut hukum syar’i mengenai bantuan dan dukungan yang diberikan untuk kegiatan pemilu?

Jawab: Sekarang ini kami tidak menganjurkan siapapun saudara kita sesama muslim untuk mencalonkan dirinya menjadi anggota parlemen di negara yang tidak menjalankan hukum Allah. Sekalipun undang-undang dasarnya menyebutkan Islam sebagai agama negara. Karena dalam prakteknya hanya untuk membius anggota parlemen yang lurus hatinya. Dalam negara semacam itu, para anggota parlemen sedikitpun tidak pernah mampu merubah undang-undang yang berlawanan dengan Islam. Fakta itu telah terbukti di beberapa negara yang menyatakan Islam sebagai agama negaranya.

Jika berbenturan dengan tuntutan zaman maka beberapa hukum yang bertentangan dengan Islam sengaja disahkan oleh parlemen dengan dalih belum tiba waktu untuk melakukan perubahan!! Itulah realita yang kami lihat di sejumlah negara. Para anggota parlemen mulai menanggalkan ciri dan identitas keislamannya. Mereka lebih senang berpenampilan ala barat supaya tidak canggung dengan anggota-anggota parlemen lainnya. Orang ini masuk parlemen dengan tujuan memperbaiki orang lain, tapi malahan ia sendiri yang rusak. Hujan itu pada awalnya rintik-rintik kemudian berubah menjadi hujan lebat!

Oleh karena itu, kami tidak menyarankan siapapun untuk mencalonkan dirinya menjadi anggota parlemen.

Namun menurutku, bila rakyat muslim melihat adanya calon-calon anggota parlemen yang jelas-jelas memusuhi Islam, sedang di situ terdapat calon-calon beragama Islam dari berbagai partai Islam, maka dalam kondisi semacam ini, aku sarankan kepada setiap muslim agar memilih calon-calon dari partai Islam saja dan calon-calon yang lebih mendekati manhaj ilmu yang benar, seperti yang diuraikan di atas.

Demikianlah menurut pendapatku, sekalipun saya meyakini bahwa pencalonan diri dan keikutsertaan dalam proses pemilu tidaklah bisa mewujudkan tujuan yang diinginkan, seperti yang diuraikan di atas. Langkah tersebut hanyalah untuk memperkecil kerusakan atau untuk menghindarkan kerusakan yang lebih besar dengan memilih kerusakan yang lebih ringan. Kaedah inilah yang biasa diterapkan oleh para pakar fiqh.

Pertanyaan ketiga: Bagaimana hukumnya kaum perempuan mengikuti pemilu?

Jawab: Boleh saja, tapi harus memenuhi kewajiban-kewajibannya, yaitu memakai jilbab secara syar’i, tidak bercampur baur dengan kaum lelaki, itu yang pertama.

Kedua, memilih calon yang paling mendekati manhaj ilmu yang benar, menurut prinsip menghindarkan kerusakan yang lebih besar dengan memilih kerusakan yang lebih ringan, seperti yang telah diuraikan di atas.

[Disalin dari Madarikun Nazhar Fis Siyasah, Syaikh Abdul Malik Ramadlan Al-Jazziri, edisi Indonesia “Bolehkah Berpolitik?”, hal 45-46]

Renungan sebelum mencoblos 

Oleh : Ustadz Firanda Andirja

  1. Bukanlah yang terbaik menjelaskan bolehnya nyoblos dalam pemilu (karena bolehnya nyoblos telah difatwakan oleh banyak ulama besar), akan tetapi yang lebih baik adalah penjelasan manakah pilihan partai atau caleg yang terbaik. Ini butuh perjuangan dan kerja keras, serta pandangan yang tajam dari para pakar.  Karena inti dari fatwa para ulama adalah ارتكاب أخف الضررين “Menempuh yang mudorotnya terkecil” bukan bebas memilih…, maka butuh perjuangan untuk menentukan mana yang mudorotnya terkecil. 

  2. Jika hak milih digunakan untuk nyoblos partai atau caleg yang kurang baik, maka malah akan merugikan islam dan bangsa… Memaksakan orang awam yang tdk bisa memilah milih untuk menyoblos adalah memaksa dia untuk beramal tanpa ilmu dan membabi buta…

  3. Mengajari orang-orang awam untuk menilai juga merupakan pembebanan mereka dengan perkara yang berat, karena bahan penilaian mereka adalah tv, koran, dan internet. Sementara media-media informasi فيه ما فيه, Hal ini juga mengaharuskan mereka untuk menyita waktu yang banyak dalam melaksanakan penelitian tersebut, terlebih lagi jumlah partai yang hendak dipilih banyak. Memang perkaranya lebih ringan dan lebih mudah tatkala memilih person daripada partai yang isinya heterogen

  4. Lebih sulit lagi kenyataan yang telah terjadi yaitu munculnya “tokoh yang baik” dari partai yang dianggap tidak baik, demikian juga sebaliknya

  5. Suatu partai yang mengharamkan golput sementara “sentimen” jika partainya tidak dipilih sama saja dengan menyatakan “wajib hukumnya untuk memilih partaiku, jika tdk maka berdosa”!!

  6. Kita tetap berharap partai yang islami atau yang terwarnai islam, bukan partai yang terbuka dan bertekad untuk tdk menegekan syari’at. Apakah jika partai terbuka tersebut menang maka “syi’ah” akan ditolaknya? Ataukah dijadikan teman sebagaimana ada calegnya yang syiah dan ada juga yang nonmuslim? Konsekuensi dari “keterbukaan” maka semuanya bisa jadi teman dan tidak boleh memusuhi siapapun!!, wallahu a’lam

  7. Jangan lupa untuk terus beribadah dan berdoa serta meningkatkan takwa dan tauhid masing masing, karena apapun kondisi yang terjadi ketakwaanlah yang menyelamatkan kita dan negeri ini.

Intinya yang dibutuhkan sekarang adalah mencari partai atau caleg yang terbaik sebagai bentuk pengamalan fatwa para ulama, karena jika tidak bisa ditentukan mana yang terbaik maka pada hakekatnya fatwa para ulama tersebut tidak bisa diterapkan !!

Setelah itu berusaha mensosialisasikannya… dan sungguh hal ini membutuhkan riset khusus…

Jika saudara anda akhirnya memilih “diam dan tidak ikut-ikutan” maka janganlah cela dia, jika anda mencelanya maka berilah solusi partai terbaik jaminan anda… Jika anda tidak bisa menjamin maka jangan paksa saudara anda untuk melakukan hal yang meragukannya..

Demikian juga sebaliknya, jika saudara anda bersikeras untuk mencoblos -berdasarkan riset dan penelitian yang bisa ia pertanggungjawabkan di hadapan Allah- maka hargailah ijtihad dan perjuangannya. Semoga Allah memberikan pimpinan yang terbaik bagi negeri kita

Berikut diatas cuma secuil nasehat dari para ulama ketika kita umat islam dihadapkan pada pesta demokrasi semacam ini, benar memang pemilu tidak ada syariatnya namun kita juga harus berpikir apa dampaknya jika kita membiarkan pihak yang berkuasa mengusik ibadah dan iman kita nantinya, semoga kita dalam ridho Allah selalu, amin.